Pendidikan
nilai dan pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu materi dasar yang
wajib disampaikan pada perserta didik. Proses belajar dan mengajar di kelas
tidak hanya sekedar penyampaian berbagai sumber teori yang ingin disampaikan
akan tetapi proses belajar dan mengajar di sini lebih di tekankan pada
bagaimana peserta didik mampu untuk menguasai materi pelajaran dengan baik
kemudian diimplementasikan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Maka dari itu, di perlukan pendekatan proses belajar dan mengajar pada materi
pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan pendekatan belajar tuntas,
pendekatan belajar bebas, pendekatan saintifik dan pendekatan sikap guru.
1. Pendekatan
belajar tuntas
Menurut
Sutrisno (2016: 33) Pendekatan belajar tuntas merupakan langkah pertama dalam
penanaman pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan pada peserta didik
dalam proses belajar dan mengajar di kelas. Malalui pendekatan belajar tuntus
peserta didik diharpakan mampu untuk menguasi materi secara penuh hal ini
biasanya di sebut dengan “mastery Learning” atau belajar tuntas.
2.
Pendekatan Belajar Bebas
Menurut
Nasution (2005) dalam Sutrisno (20016:33), mengemukakan bahwa Peserta didik
tidak hanya secara bebas artinya peserta didik tidak dipaksa menyelesaikan
tugas-tugas dalam waktu tertentu, akan tetapi juga belajar untuk membebaskan
dirinya menjadi manusia yang berani untuk melakukan apa yang pengen dilakukanya
dengan penuh tanggung jawab. Dengan konsep pendekatan bebas di sini di harapkan
peserta didik mampu untuk penerapan nilai-nilai dari pendidikan nilai dan
pendidikan kewarganegaraan secara bebas dan penuh tanggung jawab. Ada beberapa
hal yang perlu dilakukan dalam mengembangkan kebebasan pada peserta didik agar
nilai-nilai yang terdapat pada pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan
mampu diserap oleh peserta didik pertama yakni pendidik harus berkelakuan wajar
dan benar menurut apa yang terkandung dalam dirinya. Kedua, pendidik harus
menerima peserta didik dengan segala aspek-aspek pribadinya dan ketiga,
pengertian atau empati, berarti bahwa pendidik mampu melihat dan merasakan
sesuatu seperti dilihat atau dirasakan oleh peserta didik. Menurut Sutrisno
(2016: 34) Adapun bebara syarat dalam belajar bebas sebagai berikut:
a. Adanya
masalah yang menarik bagi peserta didik
b. Adanya
rasa kepercayaan pendidik kepada peserta didik
c. Adanya keterbukaan yang dilakukan oleh pendidik
d. Adanya
rasa empati pendidik pada peserta didik
Dalam hal ini ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh
pendidik ketika menggunakan model pembelajaran bebas yakni:
a. Pelajari
kompetensi dasar pada kelompok dan semester yang sama dari setiap kemampuan
yang akan dikembangkan.
b. Dalam
pelaksanaan pembelajaran bebas perlu mempertimbangkan antara lain alokasi
waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.
c. Persiapkan
alat-alat bermain yang bervariasi untuk menunjang kegiatan yang sesuai dengan
kompetensi yang diharapkan
3.
Pendekatan Saintifik
Pembelajaran melalui
pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang mengadopsi dari
langkah-langkah saints dalam membangun pengetahuan yang bersifat metode ilmiah.
Model pendekatan saintifk tidak sekedar hanya sekedar memperolah pengetahuan,
keterampilan dan sikap akan tetapi yang jauh lebih penting yakni bagaimana
proses pengetahuan, keterampilan dan sikap itu diperoleh (Zamroni, 2000). Model
ini lebih menekankan bahwa guru hanya sebagai fasilitator yang membimbing dan
mengkoordinasikan kegiatan belajar dan mengajar di kelas dengan demikian
peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun
konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya.
langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan saintifik diantaranya sebagai berikut:
a. Ranah
sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik
“tahu mengapa” yang kemudian akan timbul rasa penasaran pada peserta didik.
b. Ranah
keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta
didik “tahu bagaimana” kemudian peserta didik di tuntut untuk memberikan
jawaban atas pertanyaan yang timbul.
c. Ranah
pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta
didik “tahu apa.” Yang kemudian merangsang peserta didik agara mengumbulkan
berbagai informasi tentang apa yang pengen diketahui dari pertanyaan tersebut .
4.
Pendekatan modelling
Guru mengajarkan mata pelajaran kepada peserta didiknya, ia
tidak hanya mengutamakan materi yang disampiakn akan tetapi juga memperhatikan
anak itu sendiri sebagai manusia yang harus dikembangkan kepribadiannya.
strategi yang dilakukan pendidik, agar bisa meminimalisir permasalahan,
sehingga pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan dapat diserap dengan
baik oleh peserta didk, ada pun tiga hal yang perlu dilakukan oleh pendidik
dalam menentukan sikapnya, yakni:
a. Pemahaman mendalam akan hakikat anak dan bahan pelajaran
dalam proses pembelajaran
b. Pemahaman bahwa pada hakikatnya guru sebagai model/teladan
bagi peserta didiknya.
c. Pemahaman akan kesulitan dalam poreses belajar pada
peserta didik.
Metode/strategi dalam pendidikan
nilai dan PKn
Metode pembelajaran PKn menurut Abdul Gofur yaitu : pembelajaran portofolio, modeling,
conditioning, gaming, dan teaching.
1.
Pembelajaran
portofolio
Menurut Iim
Wasliman dan Numan Somantri (2002: 47) pengertian portofolio di sini adalah suatu kumpulan
pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut
panduan-panduan yang ditentukan . Portofolio dapat diartikan sebagai suatu
wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedagogis, maupun sebagai adjective, yakni kumpulan atau
dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel.
Misalnya hasil tes awal (pre test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam
penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post
test), dan sebagainya. Terkait dengan mata pelajaran PKn yang berperan penting
dalam menyiapkan warga negara yang berkualitas,sehingga dapat berpartisipasi
aktif, diperlukan bekal pengetahuan dan keterampilan,pengalaman praktis, dan
pemahaman tentang pentingnya warga negara. Menurut Elly
Malihah dkk (2009: 9) Melalui model pembelajaran Portofolio, selain
diupayakan dapat membangkitkan minat belajar siswa/mahasiswa secara aktif,
kreatif, juga dapat mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan
berpartisipasi secara efektif, serta diiringi suatu sikap tanggung jawab.
2.
Modeling
Modeling dalam pembelajaran PKn
sangatlah penting, mengingat PKn terdiri dari rumpun politik, hukum, dan moral.
Dalam pembelajaran nilai moral, teladan dari seseorang yang dijadikan model
oleh siswa sangat berperan untuk terinternalisasinya nilai moral yang diajarkan.
Model yang digunakan dapat berupa:
1) manusia, terdiri dari tokoh
masyarakat, pahlawan, pemimpin bangsa.
2) model nonmanusia, terdiri dari
dongeng dan fabel (Abdul Gafur, 2006: 5)
3.
Conditioning
Menurut Abdul Gofur yaitu penciptaan
situasi dan kondisi yang mengharuskan seseorang berperilaku/berbuat sesuai
kondisi yang diciptakan. Misalnya sarana antrean, sarana masuk keluar swalayan,
sarana masuk keluar tempat parkir ( 2006: 5). Dengan penciptaan kondisi yang
demikian serta mengharuskan siswa untuk melakukannya sesuai dengan aturan yang
berlaku akan dapat digunakan sebagai metode untuk menanamkan nilai moral
disiplin, kesabaran, toleransi.
4. Gaming
Menurut
Abdul Gafur merupakan metode pembelajaran yang menghendaki siswa berlomba-lomba
untuk menentukan menang kalah. Contoh pembelajaran melalui metode gaming adalah
broken square, team game tournament, cerdas cermat (2006: 5).
5.
Teaching
Merupakan metode pembelajaran PKn
dengan cara memberikan ajaran (piwulang) bagaimana seharusnya seseorang harus
berperilaku atau tidak berperilaku. Misalnya ajaran bagaimana bersikap kepada
orang tua, bagaimana berbahasa, bagaimana cara makan, minum dan sebagainya.
(Abdul Gafur, 2006: 6).
Daftar Pustaka
Abdul
Gafur. (2006). Metode Pembelajaran PPKn di SD. Makalah. Yogyakarta: UNY.
Elly
Malihah.(2009). Model portofolio pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan
untuk meningkatkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme mahasiswa ptn/pts
di kota bandung. Tidak dipublikasi: Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Sutrisno. (2016).
Berbagai pendekatan dalam pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan. Jurnal
Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran
Vol.5: 29-37
Winataputra,
Udin. S., 2006, Demokrasi dan Pendidikan Demokrasi, Jakarta, Dirjen Dikti