Tuesday, April 12, 2016

Berbagai Pendekatan dalam Pendidikan Nilai, Metode, Strategi dan Pendidikan Kewarganegaraan



Pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan merupakan salah satu materi dasar yang wajib disampaikan pada perserta didik. Proses belajar dan mengajar di kelas tidak hanya sekedar penyampaian berbagai sumber teori yang ingin disampaikan akan tetapi proses belajar dan mengajar di sini lebih di tekankan pada bagaimana peserta didik mampu untuk menguasai materi pelajaran dengan baik kemudian diimplementasikan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Maka dari itu, di perlukan pendekatan proses belajar dan mengajar pada materi pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan pendekatan belajar tuntas, pendekatan belajar bebas, pendekatan saintifik dan pendekatan sikap guru.
1.      Pendekatan belajar tuntas
Menurut Sutrisno (2016: 33) Pendekatan belajar tuntas merupakan langkah pertama dalam penanaman pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan pada peserta didik dalam proses belajar dan mengajar di kelas. Malalui pendekatan belajar tuntus peserta didik diharpakan mampu untuk menguasi materi secara penuh hal ini biasanya di sebut dengan “mastery Learning” atau belajar tuntas.
2.      Pendekatan Belajar Bebas
Menurut Nasution (2005) dalam Sutrisno (20016:33), mengemukakan bahwa Peserta didik tidak hanya secara bebas artinya peserta didik tidak dipaksa menyelesaikan tugas-tugas dalam waktu tertentu, akan tetapi juga belajar untuk membebaskan dirinya menjadi manusia yang berani untuk melakukan apa yang pengen dilakukanya dengan penuh tanggung jawab. Dengan konsep pendekatan bebas di sini di harapkan peserta didik mampu untuk penerapan nilai-nilai dari pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan secara bebas dan penuh tanggung jawab. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalam mengembangkan kebebasan pada peserta didik agar nilai-nilai yang terdapat pada pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan mampu diserap oleh peserta didik pertama yakni pendidik harus berkelakuan wajar dan benar menurut apa yang terkandung dalam dirinya. Kedua, pendidik harus menerima peserta didik dengan segala aspek-aspek pribadinya dan ketiga, pengertian atau empati, berarti bahwa pendidik mampu melihat dan merasakan sesuatu seperti dilihat atau dirasakan oleh peserta didik. Menurut Sutrisno (2016: 34) Adapun bebara syarat dalam belajar bebas sebagai berikut:
a.       Adanya masalah yang menarik bagi peserta didik
b.      Adanya rasa kepercayaan pendidik kepada peserta didik
c.        Adanya keterbukaan yang dilakukan oleh pendidik
d.      Adanya rasa empati pendidik pada peserta didik
Dalam hal ini ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh pendidik ketika menggunakan model pembelajaran bebas yakni:
a.       Pelajari kompetensi dasar pada kelompok dan semester yang sama dari setiap kemampuan yang akan dikembangkan.
b.      Dalam pelaksanaan pembelajaran bebas perlu mempertimbangkan antara lain alokasi waktu, memperhitungkan banyak dan sedikitnya bahan yang ada di lingkungan.
c.       Persiapkan alat-alat bermain yang bervariasi untuk menunjang kegiatan yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan
3.      Pendekatan Saintifik
Pembelajaran melalui  pendekatan saintifik merupakan proses pembelajaran yang mengadopsi dari langkah-langkah saints dalam membangun pengetahuan yang bersifat metode ilmiah. Model pendekatan saintifk tidak sekedar hanya sekedar memperolah pengetahuan, keterampilan dan sikap akan tetapi yang jauh lebih penting yakni bagaimana proses pengetahuan, keterampilan dan sikap itu diperoleh (Zamroni, 2000). Model ini lebih menekankan bahwa guru hanya sebagai fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar dan mengajar di kelas dengan demikian peserta didik diarahkan untuk menemukan sendiri berbagai fakta, membangun konsep, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk kehidupannya.
langkah-langkah dalam pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik diantaranya sebagai berikut:
a.      Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa” yang kemudian akan timbul rasa penasaran pada peserta didik.
b.      Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana” kemudian peserta didik di tuntut untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang timbul.
c.       Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.” Yang kemudian merangsang peserta didik agara mengumbulkan berbagai informasi tentang apa yang pengen diketahui dari pertanyaan tersebut .
4.      Pendekatan modelling
Guru mengajarkan mata pelajaran kepada peserta didiknya, ia tidak hanya mengutamakan materi yang disampiakn akan tetapi juga memperhatikan anak itu sendiri sebagai manusia yang harus dikembangkan kepribadiannya. strategi yang dilakukan pendidik, agar bisa meminimalisir permasalahan, sehingga pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan dapat diserap dengan baik oleh peserta didk, ada pun tiga hal yang perlu dilakukan oleh pendidik dalam menentukan sikapnya, yakni:
a. Pemahaman mendalam akan hakikat anak dan bahan pelajaran dalam proses pembelajaran
b. Pemahaman bahwa pada hakikatnya guru sebagai model/teladan bagi peserta didiknya.
c. Pemahaman akan kesulitan dalam poreses belajar pada peserta didik.

Metode/strategi dalam pendidikan nilai dan  PKn
Metode pembelajaran PKn menurut Abdul Gofur  yaitu : pembelajaran portofolio, modeling, conditioning, gaming, dan teaching.
1.      Pembelajaran portofolio
Menurut Iim Wasliman dan Numan Somantri (2002: 47) pengertian portofolio di sini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang ditentukan . Portofolio dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses sosial pedagogis, maupun sebagai adjective, yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel. Misalnya hasil tes awal (pre test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post test), dan sebagainya. Terkait dengan mata pelajaran PKn yang berperan penting dalam menyiapkan warga negara yang berkualitas,sehingga dapat berpartisipasi aktif, diperlukan bekal pengetahuan dan keterampilan,pengalaman praktis, dan pemahaman tentang pentingnya warga negara. Menurut Elly Malihah dkk (2009: 9)  Melalui model pembelajaran Portofolio, selain diupayakan dapat membangkitkan minat belajar siswa/mahasiswa secara aktif, kreatif, juga dapat mengembangkan pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif, serta diiringi suatu sikap tanggung jawab.

2.      Modeling
Modeling dalam pembelajaran PKn sangatlah penting, mengingat PKn terdiri dari rumpun politik, hukum, dan moral. Dalam pembelajaran nilai moral, teladan dari seseorang yang dijadikan model oleh siswa sangat berperan untuk terinternalisasinya nilai moral yang diajarkan.
Model yang digunakan dapat berupa:
1) manusia, terdiri dari tokoh masyarakat, pahlawan, pemimpin bangsa.
2) model nonmanusia, terdiri dari dongeng dan fabel (Abdul Gafur, 2006: 5)

3.      Conditioning
Menurut Abdul Gofur yaitu penciptaan situasi dan kondisi yang mengharuskan seseorang berperilaku/berbuat sesuai kondisi yang diciptakan. Misalnya sarana antrean, sarana masuk keluar swalayan, sarana masuk keluar tempat parkir ( 2006: 5). Dengan penciptaan kondisi yang demikian serta mengharuskan siswa untuk melakukannya sesuai dengan aturan yang berlaku akan dapat digunakan sebagai metode untuk menanamkan nilai moral disiplin, kesabaran, toleransi.
4.       Gaming
Menurut Abdul Gafur merupakan metode pembelajaran yang menghendaki siswa berlomba-lomba untuk menentukan menang kalah. Contoh pembelajaran melalui metode gaming adalah broken square, team game tournament, cerdas cermat (2006: 5).
5.      Teaching
Merupakan metode pembelajaran PKn dengan cara memberikan ajaran (piwulang) bagaimana seharusnya seseorang harus berperilaku atau tidak berperilaku. Misalnya ajaran bagaimana bersikap kepada orang tua, bagaimana berbahasa, bagaimana cara makan, minum dan sebagainya. (Abdul Gafur, 2006: 6).



Daftar Pustaka
Abdul Gafur. (2006). Metode Pembelajaran PPKn di SD. Makalah. Yogyakarta: UNY.
Elly Malihah.(2009). Model portofolio pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk meningkatkan nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme mahasiswa ptn/pts di kota bandung. Tidak dipublikasi: Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Sutrisno. (2016). Berbagai pendekatan dalam pendidikan nilai dan pendidikan kewarganegaraan. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.5: 29-37
Winataputra, Udin. S., 2006, Demokrasi dan Pendidikan Demokrasi, Jakarta, Dirjen Dikti